Bogor, Garuda Vox News —

Alih-alih meredakan konflik internal, situasi di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bogor justru kian memanas pasca penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) baru. Sejumlah pihak menilai, kebijakan tersebut bukan menjadi solusi, melainkan memperuncing dinamika yang sudah sejak lama menggerogoti stabilitas kelembagaan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sejak pergantian kepemimpinan sementara itu, tensi di internal Kemenag Kabupaten Bogor semakin meningkat. Friksi antarpegawai, tarik-menarik kepentingan, hingga dugaan adanya kelompok-kelompok tertentu yang bermain dalam pusaran kekuasaan, kini semakin terbuka ke permukaan.

Seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, kepemimpinan Plt dinilai belum mampu merangkul semua elemen. Bahkan, sejumlah kebijakan yang diambil disebut cenderung sepihak dan memicu resistensi di kalangan pegawai.

“Bukannya menenangkan situasi, justru makin banyak kebijakan yang tidak komunikatif. Ini membuat suasana kerja semakin tidak kondusif,” ujarnya.

Tak hanya itu, sorotan juga mengarah pada dugaan adanya kepentingan politik dalam penunjukan Plt tersebut. Sejumlah pengamat menilai, dinamika yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari tarik-menarik kepentingan elit, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Pengamat kebijakan publik menilai, kondisi ini berbahaya jika terus dibiarkan. Kemenag sebagai institusi yang mengurusi urusan keagamaan seharusnya menjadi contoh keteladanan dalam tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional.

“Kalau internalnya saja tidak stabil, bagaimana bisa memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat? Ini harus segera dibenahi,” tegasnya.

Situasi yang kian memanas ini juga memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama di Kabupaten Bogor. Mereka mendesak agar ada langkah cepat dan tegas untuk mengakhiri polemik yang berkepanjangan.

Desakan pun mulai mengarah kepada Kementerian Agama Pusat untuk tidak tinggal diam dan perlu turun tangan guna memastikan stabilitas dan netralitas birokrasi tetap terjaga, terlebih Kemenag memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial dan kehidupan beragama.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kemenag Kabupaten Bogor terkait polemik yang berkembang. Sementara itu, publik masih menunggu langkah konkret untuk meredam gejolak yang berpotensi semakin meluas jika tidak segera ditangani secara serius dan transparan.(Brago)