Bogor, Garuda Vox News—
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Paledang, Kota Bogor, terus menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung kebijakan nasional melalui pemanfaatan lahan tidur menjadi sarana produktif.
Melalui Program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS), Lapas Kelas IIA Paledang mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai kontribusi konkret terhadap ketahanan pangan nasional.
Pemanfaatan Lahan Tidur Jadi Peternakan Produktif

Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini disulap menjadi area peternakan ayam petelur yang tertata dan representatif. Sebuah kandang modern berdiri kokoh dengan sistem pemeliharaan terkontrol, menandai transformasi aset negara menjadi sumber produktivitas.
Peternakan ini memiliki kapasitas 1.300 ekor ayam petelur, yang dikelola secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Kehadiran sarana ini juga menjadi simbol perubahan paradigma pemasyarakatan yang lebih progresif dan berorientasi masa depan.
Warga Binaan Terlibat Langsung dalam Proses Produksi

Warga binaan dilibatkan langsung dalam seluruh proses pengelolaan peternakan, mulai dari perawatan ayam, pemberian pakan, hingga pengelolaan hasil produksi telur. Sistem kandang bertingkat dengan fasilitas minum dan pakan terintegrasi memberikan pengalaman teknis beternak secara profesional.
Selain keterampilan teknis, warga binaan juga dibekali pemahaman tentang manajemen usaha, kedisiplinan kerja, dan tanggung jawab kolektif, sebagai bekal penting ketika kembali ke masyarakat.
“Program ini memberi kami kesempatan belajar dan merasa dipercaya. Bukan hanya soal beternak, tetapi juga tentang kerja sama dan kesiapan hidup mandiri,” ujar salah satu warga binaan peserta program SAE.
Hasil Program SAE Dirasakan Langsung oleh Masyarakat

Tak hanya berorientasi internal, hasil dari program SAE juga memberi dampak sosial bagi masyarakat. Melalui kegiatan Jumat Berkah, Lapas Paledang menyalurkan hasil pembinaan berupa paket makanan kepada masyarakat sekitar, sebagai bentuk kepedulian sosial dan implementasi nilai kemanusiaan dalam pemasyarakatan.
Kegiatan ini mencerminkan bahwa program SAE tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menumbuhkan empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab sosial bagi warga binaan.
Komitmen Pimpinan Dorong Inovasi Pembinaan
Kepala Lapas Paledang, Raden Budiman Priyatna Kusumah, menegaskan bahwa program SAE merupakan wujud nyata pelaksanaan arahan Kementerian IMIPAS agar lapas menjadi ruang pembinaan yang produktif dan berdampak.
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Paledang, Muhammad Yuda Triwangga, menyampaikan bahwa optimalisasi lahan tidur adalah bentuk pengelolaan aset negara yang efektif dan berkelanjutan.
“Ini adalah asimilasi nyata. Warga binaan dilibatkan dari hulu ke hilir. Program ini sejalan dengan kebijakan Kementerian IMIPAS yang mendorong lapas sebagai pusat pembinaan produktif,” ujar Yuda, Senin (9/2/2026).
Model Pemasyarakatan Masa Depan
Keberhasilan program SAE di Lapas Paledang menegaskan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjadi bagian dari solusi strategis nasional, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan kepemimpinan yang progresif dan inovasi berkelanjutan, Lapas Paledang diharapkan menjadi role model bagi lapas dan rutan lain di Indonesia dalam mengoptimalkan lahan tidur sebagai penyangga pangan alternatif sekaligus sarana pemberdayaan warga binaan.(Hakim)






