Jogjakarta, Garuda Vox News–

Di balik mekarnya bunga Wijaya Kusumah yang hanya muncul pada malam hari, tersimpan cerita panjang tentang ketelatenan, kesabaran, dan filosofi hidup.

Tak heran, tanaman legendaris yang dikenal sebagai “Ratu Malam” ini memiliki komunitas penghobi setia di Jogjakarta dan berbagai daerah sekitarnya.

Wijaya Kusumah bukan sekadar tanaman hias. Bagi para penghobi, bunga ini memiliki nilai historis dan simbolik yang kuat. Mekarnya yang singkat namun memukau kerap dimaknai sebagai lambang keindahan, ketulusan, dan momen berharga yang tidak datang setiap saat.

“Menunggu Wijaya Kusumah mekar itu seperti menunggu hasil dari kesabaran. Bisa berbulan-bulan dirawat, tapi saat mekar rasanya terbayar,” ujar Gito(45), salah satu penghobi Wijaya Kusumah yang telah menekuni tanaman ini lebih dari sepuluh tahun.

Komunitas penghobi Wijaya Kusumah kini semakin berkembang. Melalui media sosial dan pertemuan rutin, para pecinta tanaman ini saling berbagi pengalaman mulai dari teknik perawatan, pemilihan media tanam, hingga cara merangsang bunga agar mekar sempurna. Bahkan, momen mekarnya Wijaya Kusumah sering dijadikan ajang silaturahmi dan dokumentasi bersama.

Menariknya, tren merawat Wijaya Kusumah juga berdampak positif secara ekonomi. Beberapa varietas tertentu memiliki nilai jual tinggi, terutama tanaman yang rajin berbunga dan memiliki ukuran bunga besar.

Hal ini membuka peluang usaha bagi penghobi rumahan, sekaligus memperkuat sektor hobi tanaman hias yang sempat melejit pascapandemi.

Pengamat tanaman hias menilai, meningkatnya minat terhadap Wijaya Kusumah menunjukkan bahwa masyarakat mulai kembali mengapresiasi tanaman lokal yang sarat makna budaya. Selain mudah beradaptasi dengan iklim tropis, Wijaya Kusumah juga relatif ramah perawatan jika ditangani dengan tepat.

Ke depan, para penghobi berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun komunitas lingkungan untuk mengadakan pameran atau festival tanaman hias, termasuk Wijaya Kusumah.

Selain sebagai ajang edukasi, kegiatan tersebut dinilai mampu mendorong ekonomi kreatif dan memperkuat kecintaan masyarakat terhadap flora Nusantara.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, mekarnya Wijaya Kusumah di keheningan malam seakan menjadi pengingat bahwa keindahan sejati lahir dari kesabaran dan ketulusan merawat kehidupan.(Brago)