Jakarta, Garuda Vox News–

Organisasi Penjahit Indonesia Raya (PIR) terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan sosial–ekonomi yang berkontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia nasional.

Dengan fokus pada penciptaan tenaga kerja siap pakai di sektor garment, PIR dinilai menjadi salah satu model gerakan akar rumput yang relevan dengan agenda besar negara, pengurangan pengangguran dan penguatan ekonomi rakyat.

Dipimpin oleh Aries Sunan, PIR bergerak secara konsisten dan terstruktur hingga ke daerah. Kepemimpinan Aries dikenal aktif, langsung turun ke lapangan, dan menjaga kedekatan dengan masyarakat.

Di bawah komandonya, PIR tidak hanya menjalankan program pelatihan keterampilan menjahit, tetapi juga pembentukan mental kerja, disiplin, dan karakter profesional.

Dengan dukungan Tokoh Nasional, Bergerak dengan Visi Kebangsaan.

Secara struktural dan moral, PIR mendapat dukungan dari sejumlah tokoh nasional.

H. Prabowo Subianto tercatat sebagai Dewan Kehormatan, sementara Hashim Djojohadikusumo berperan sebagai Dewan Pembina.

Dukungan ini mempertegas bahwa PIR bukan sekadar organisasi profesi, tetapi bagian dari gerakan strategis pembangunan SDM yang sejalan dengan kepentingan nasional.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memberikan legitimasi politik sekaligus arah kebijakan yang jelas yaitu membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan keterampilan dan produktivitas.

Mengakar dan berdampak positif di Daerah.

Hingga kini, PIR telah membentuk sekitar 15 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di tingkat provinsi dan 80 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di tingkat kabupaten/kota.

Jaringan ini menjadi tulang punggung implementasi program PIR di lapangan.

Keberadaan PIR di daerah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ribuan peserta pelatihan yang sebelumnya berada di luar pasar kerja kini memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri, bahkan sebagian telah mampu menciptakan lapangan kerja baru secara mandiri.

Pendekatan SDM yang Relevan dengan Arah Kebijakan Negara.

Salah satu prinsip yang di terapkan PIR terletak pada pendekatannya yang komprehensif.

Pelatihan tidak berhenti pada aspek teknis garment, tetapi juga menanamkan etos kerja, kesiapan mental, dan tanggung jawab profesional.

Model ini dinilai selaras dengan kebutuhan dunia usaha sekaligus arah kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.

Bagi kalangan eksekutif dan pembuat kebijakan, PIR menghadirkan contoh konkret bagaimana kolaborasi antara kepemimpinan organisasi, dukungan tokoh nasional, dan kerja lapangan dapat menghasilkan dampak sosial yang terukur.

PIR sebagai Mitra Strategis Pembangunan

Dengan jejaring yang terus berkembang dan kepemimpinan yang solid, PIR memposisikan diri sebagai mitra strategis dalam agenda pembangunan nasional, khususnya di bidang ketenagakerjaan dan industri padat karya.

PIR menunjukkan bahwa pembangunan SDM tidak harus selalu dimulai dari kebijakan besar di pusat, tetapi dapat tumbuh dari gerakan terorganisir yang mengakar di masyarakat, dengan visi kebangsaan dan dukungan politik yang kuat.(Hadi)