Jakarta, Garuda Vox News —
Dinamika politik nasional kembali menghangat menyusul mencuatnya isu rencana perpindahan tokoh senior Partai NasDem, Rusdi Masse Mappasessu (RMS), ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Isu tersebut menguat menjelang konsolidasi nasional PSI dan disebut-sebut sebagai bagian dari reposisi kekuatan politik pasca-Pemilu 2024.
Sejumlah sumber internal partai menyebutkan, komunikasi politik antara RMS dan elite PSI telah terjalin dalam beberapa waktu terakhir. Meski belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak, sinyal kedekatan itu dinilai semakin terang setelah RMS beberapa kali terlihat menghadiri forum-forum strategis yang juga dihadiri jajaran pimpinan PSI.
RMS dikenal sebagai figur berpengaruh di kawasan Indonesia Timur. Selama berkiprah di NasDem, ia memainkan peran kunci dalam memperkuat basis elektoral partai, khususnya di Sulawesi Selatan. Karena itu, jika perpindahan ini benar terjadi, langkah tersebut diprediksi akan memberi dampak signifikan terhadap peta kekuatan partai, baik bagi NasDem maupun PSI.
Pengamat politik menilai, isu hijrahnya RMS mencerminkan dinamika internal partai-partai pasca-pemilu yang masih cair. “PSI tengah membangun citra sebagai rumah baru bagi tokoh-tokoh dengan basis massa kuat. Sementara NasDem menghadapi tantangan menjaga soliditas kader strategisnya,” ujar seorang analis politik nasional.
Di sisi lain, elite NasDem belum memberikan tanggapan terbuka terkait isu tersebut. Namun, beberapa kader menyebut partai tetap fokus pada agenda konsolidasi internal dan penguatan struktur menghadapi agenda politik ke depan.
Sementara itu, PSI juga belum mengonfirmasi kabar tersebut. Meski demikian, partai yang kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep itu secara terbuka menyatakan membuka ruang bagi tokoh-tokoh nasional yang sejalan dengan semangat perubahan dan regenerasi politik.
Hingga berita ini diturunkan, status keanggotaan RMS masih tercatat sebagai kader Partai NasDem. Kepastian soal rencana perpindahan politik tersebut diperkirakan akan terjawab dalam waktu dekat, seiring meningkatnya intensitas komunikasi lintas partai menjelang agenda-agenda strategis nasional.(Brago)






