JAKARTA, Garuda Vox News –

Pemberdayaan penyandang disabilitas melalui seni, kreativitas, dan kemandirian menjadi pesan utama dalam kegiatan SENADA (Seni dalam Nada Disabilitas) yang diselenggarakan di graha pemuda gereja katedral Lt. 4, Jakarta pada kamis, 5/11/26.

Program ini diharapkan tidak sekadar menghadirkan ruang ekspresi, tetapi juga membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, berkarya, dan memperoleh kesempatan yang setara di tengah masyarakat.

Romo Adrianus Suyudi menegaskan pentingnya mendorong kelompok disabilitas agar mampu mandiri dan memberdayakan kemampuan diri melalui berbagai kegiatan kreatif. Menurutnya, penyandang disabilitas perlu mendapatkan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas, kreativitas, serta menghasilkan karya yang memiliki nilai bagi kehidupan sosial.

Pemberdayaan tersebut dinilai penting agar penyandang disabilitas tidak hanya menjadi objek perhatian dan bantuan, tetapi juga tampil sebagai individu yang memiliki kemampuan, produktivitas, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Seni dan kreativitas menjadi salah satu pendekatan strategis untuk membangun kepercayaan diri sekaligus membuka peluang kemandirian.

Sementara itu, Krisdayanti menyatakan komitmennya untuk mendorong dukungan terhadap program pemberdayaan disabilitas melalui rekan-rekannya di DPR RI.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat perhatian terhadap program-program yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkembang, berkarya, dan memperoleh kesempatan yang lebih luas.

Langkah ini menjadi penting mengingat pemberdayaan disabilitas membutuhkan dukungan berkelanjutan, baik melalui kebijakan, program sosial, maupun kolaborasi lintas sektor.

Keterlibatan DPR RI diharapkan mampu memperkuat agenda inklusivitas sehingga tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan berlanjut menjadi program konkret yang memberikan manfaat langsung bagi kelompok disabilitas.

Ignatius Kardinal Suharyo menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat dalam memperkuat gerakan kesetaraan dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Menurutnya, upaya membangun masyarakat yang inklusif membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari masyarakat umum, para pegiat kesetaraan, tokoh lintas agama, hingga berbagai organisasi sosial dan kemanusiaan.

Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan, menjunjung martabat manusia, serta memberikan ruang yang setara bagi setiap individu.

Pesan yang disampaikan Kardinal Suharyo sekaligus menegaskan bahwa pemberdayaan disabilitas bukan hanya tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan agenda kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan partisipasi bersama.

SENADA menghadirkan semangat seni dalam keberagaman melalui partisipasi Latte Band dan Laetitia Disability Choir.

Kegiatan ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa seni dan musik mampu melampaui batas kemampuan fisik, menyatukan perbedaan, serta membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas.

Lebih jauh, SENADA diharapkan menjadi momentum untuk menggeser paradigma terhadap penyandang disabilitas, dari pendekatan belas kasihan menuju penghargaan atas kemampuan, kreativitas, dan kemandirian.

Kemandirian, dukungan kebijakan, dan sinergi lintas elemen masyarakat menjadi tiga pesan penting yang mengemuka. Ketiganya dinilai sebagai fondasi untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif, di mana setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkarya.

SENADA menegaskan bahwa disabilitas bukan batas untuk berkarya, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang harus dihargai dan diberdayakan.

Reporter : Brago