Jakarta, Garuda Vox News —
Dunia aktivisme nasional kembali kehilangan salah satu sosok inspiratifnya. Aktivis Guntur 49, Pandapotan Lubis, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (5/2/2026).
Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar dan mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan aktivis, tokoh masyarakat, hingga pegiat demokrasi di Tanah Air.
Pandapotan Lubis dikenal sebagai figur aktivis yang konsisten menyuarakan keadilan sosial, demokrasi, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Dalam perjalanan panjangnya, ia kerap tampil sederhana, namun tajam dalam gagasan dan berani dalam sikap. Bagi banyak aktivis lintas generasi, Pandapotan bukan sekadar rekan perjuangan, melainkan guru moral yang memberi teladan tentang keberanian bersuara tanpa pamrih.
Sejumlah aktivis nasional menilai kepergian Pandapotan sebagai kehilangan besar bagi gerakan sosial dan demokrasi Indonesia. “Bang Pandapotan adalah contoh aktivis yang tak pernah lelah membela kebenaran, meski tak selalu mendapat sorotan,” ujar salah satu aktivis senior yang mengenalnya sejak era reformasi.
Di mata kawan-kawannya, Pandapotan Lubis juga dikenal sebagai sosok egaliter dan mudah bergaul. Ia kerap berdiskusi di ruang-ruang sederhana, warung kopi, hingga forum-forum kecil, membahas nasib bangsa dengan bahasa yang lugas dan membumi.
Kepergian Pandapotan Lubis meninggalkan duka mendalam, sekaligus pesan kuat bagi generasi penerus bahwa perjuangan tidak selalu harus berada di panggung besar, tetapi harus konsisten, jujur, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Selamat jalan, Pandapotan Lubis. Jejak perjuanganmu akan tetap hidup dalam ingatan dan semangat para aktivis nasional.(Dicky)






