Jakarta, GarudaVox.News —

Pernyataan keras dilontarkan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, terhadap ambisi Presiden Prabowo Subianto yang disebut-sebut ingin mengambil peran sebagai juru damai dalam konflik antara Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataannya, JK secara blak-blakan menilai gagasan tersebut terlalu jauh dan tidak realistis mengingat posisi geopolitik Indonesia yang dinilai tidak memiliki daya tawar setara dengan Amerika Serikat.

“Kita tidak setara dengan Amerika. Bagaimana mau mendamaikan pihak yang tidak setara dalam perundingan seperti itu” kata JK di Jakarta.

Pernyataan itu langsung memicu tafsir politik yang luas. Banyak pihak melihat ucapan JK bukan sekadar saran diplomatik, tetapi juga sindiran keras terhadap gaya politik luar negeri Prabowo yang dinilai terlalu ambisius memainkan peran global.

Sejumlah analis menilai langkah Prabowo yang ingin terjun langsung dalam konflik Timur Tengah berpotensi menjadi diplomasi simbolik tanpa kekuatan nyata. Konflik Iran dengan Amerika dan Israel merupakan salah satu konflik geopolitik paling kompleks di dunia, melibatkan kepentingan militer, ekonomi, dan ideologi yang telah berlangsung puluhan tahun.

 

JK bahkan menyinggung bahwa konflik yang lebih lama seperti Palestina–Israel saja belum berhasil diselesaikan hingga hari ini. Dengan realitas tersebut, ia menilai upaya Indonesia menjadi mediator utama akan sangat sulit diwujudkan.

 

Secara tidak langsung, kritik JK juga mengarah pada posisi tawar Indonesia dalam hubungan global. Ia menilai berbagai perjanjian dan relasi internasional membuat Indonesia tidak berada pada posisi yang cukup kuat untuk menekan atau memengaruhi negara besar seperti Amerika.

Dalam konteks politik domestik, pernyataan JK juga dipandang sebagai peringatan keras terhadap orientasi politik luar negeri pemerintahan Prabowo.

Beberapa pengamat menilai, sebelum berbicara tentang menjadi “penengah dunia”, pemerintah seharusnya lebih fokus pada persoalan dalam negeri yang masih kompleks: ketimpangan ekonomi, stabilitas politik, serta keadilan sosial.

“Damai dulu di dalam negeri, baru bicara mendamaikan dunia,” kata Dr. Farchat, seorang analis politik yang menilai kritik JK sebagai bentuk realisme diplomatik.

Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan pandangan JK. Sejumlah elite politik justru mendukung langkah Prabowo dan percaya Indonesia memiliki kapasitas diplomasi untuk memainkan peran lebih aktif dalam konflik internasional.

Namun polemik ini memperlihatkan satu hal: terjadi perbedaan pandangan di antara elite nasional mengenai arah geopolitik Indonesia

Pernyataan JK yang menyebut Indonesia “tidak setara dengan Amerika” pada akhirnya bukan hanya kritik terhadap rencana diplomasi Prabowo, tetapi juga membuka kembali perdebatan lama tentang seberapa jauh Indonesia mampu memainkan peran dalam percaturan kekuatan dunia.(Brago)