Jakarta, GVN-
Nahdlatul Ulama sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pembusukan dari dalam.
Di balik jargon khidmah dan persatuan, NU hari ini dinilai banyak warganya telah disandera oleh segelintir elite, dengan satu simbol utama sebagai tameng kekuasaan: sebutan “Gus.”
Sebutan yang dulu bermakna kultural kini berubah menjadi alat politik, dipakai untuk mengamankan jabatan, membungkam kritik, dan melanggengkan pengaruh keluarga serta lingkaran tertentu.
“Gus” sebagai Lisensi Kekuasaan”
Di mata warga NU akar rumput, “Gus” hari ini bukan lagi panggilan hormat, melainkan lisensi kekuasaan. Siapa yang menyandangnya seolah otomatis benar, suci dari kritik, dan layak memimpin—bahkan ketika keputusan yang diambil jelas-jelas melukai jam’iyah.
“Kalau bukan Gus, suara kita tidak dihitung,” kata seorang pengurus cabang NU di Jawa Barat. “Padahal NU bukan kerajaan. Tapi sekarang seperti diwariskan.”
Dalam investigasi di sejumlah daerah, muncul fakta yang berulang:
Struktur NU dipenuhi figur dengan satu garis silsilah
Regenerasi mandek di luar lingkaran keluarga kiai besar, kader kritis disingkirkan secara halus atas nama adab
NU yang dulu membanggakan demokrasi musyawarah, kini dipraktikkan seperti politik dinasti berbaju sarung.
Politik Praktis Masuk, Etika Keluar
Masuknya kepentingan politik nasional ke tubuh NU mempercepat kerusakan. Warga NU melihat organisasi dipakai sebagai mesin legitimasi kekuasaan, bukan lagi pelindung umat.
Figur “Gus” tampil di istana, panggung kampanye, dan lingkar elite, sementara di bawah:
Guru ngaji tetap miskin
Madrasah diniyah terabaikan
Kader muda frustrasi dan menjauh
“NU sekarang sibuk mengamankan posisi politik, bukan mengamankan jamaah,” ujar seorang aktivis NU muda di Jakarta. “Yang berbeda pilihan langsung dicap pembangkang ulama.”
Label “anti-kiai” atau “kurang adab” menjadi senjata ampuh untuk membunuh diskursus.
Kritik Disamakan dengan Dosa
Di NU hari ini, kritik bukan lagi bagian dari tradisi intelektual, tetapi dianggap ancaman. Siapa pun yang berani mempertanyakan arah organisasi akan berhadapan dengan tembok moral palsu: adab.
Padahal adab tanpa keadilan hanyalah kedok otoritarianisme kultural.
“NU mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar,” kata seorang kiai kampung di Jawa Timur. “Tapi sekarang nahi munkar hanya boleh kalau yang salah bukan Gus.”
Di titik inilah NU mengalami krisis serius: kesakralan simbol menggantikan rasionalitas organisasi.
NU Terpecah: Elite di Atas, Jamaah di Bawah
NU memang belum pecah secara administratif, tetapi retak secara ideologis dan emosional. Ada NU elite yang dekat kekuasaan. Ada NU jamaah yang merasa ditinggalkan.
Yang satu menikmati akses dan panggung.
Yang lain memikul beban tradisi tanpa suara.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, NU bukan hanya kehilangan kepercayaan internal, tetapi juga akan kehilangan legitimasi moral di hadapan umat.
Peringatan dari Akar Rumput
Warga NU akar rumput mengirim pesan yang jelas dan keras: NU bukan milik marga, bukan milik keluarga, dan bukan alat tawar-menawar politik, kata seorang warga NU sepuh,
“jamaah tidak akan memberontak. Tapi mereka akan pergi. Diam-diam.”
Dan ketika jamaah pergi, NU tinggal nama, simbol, dan panggung, tanpa ruh.(Bravo)






